Share

Aku Tumbuh Bersama Manchester United

36 Views
Semuanya dimulai dari sebuah sore sederhana di tahun 2001.

Saat itu saya masih kelas 1 SD, sedang terbaring lemas karena demam di rumah kakek-nenek. Sore menjelang Magrib, paman saya pulang kerja. Ia membangunkan saya, lalu memberikan sebuah jersey merah Manchester United KW sponsor Vodafone dengan nama dan nomor punggung Beckham 7.

Setelah itu, paman langsung menyalakan televisi. Kebetulan sedang tayang Manchester United melawan Blackburn Rovers. Saya masih kecil dan belum benar-benar mengerti sepak bola, tapi sore itu saya melihat David Beckham mencetak gol lewat tendangan bebas.

Entah karena sugesti, rasa senang, atau keajaiban kecil seorang anak, demam saya perlahan turun setelah memakai jersey itu dan menonton United. Sejak hari itu, Manchester United bukan lagi sekadar tim di televisi. Mereka menjadi bagian dari hidup saya.

Semuanya dimulai dari Beckham.

Seiring waktu, rasa suka itu tumbuh menjadi kebiasaan, lalu berubah menjadi cinta. Salah satu pertandingan yang paling membekas adalah Manchester United vs Arsenal tahun 2004, ketika United menang 2-0. Buat orang lain, mungkin itu hanya laga besar Premier League. Tapi buat saya, laga itu personal.

Kakak perempuan saya adalah pendukung Arsenal dan penggemar Thierry Henry. Jadi setiap United bertemu Arsenal, selalu ada gengsi di rumah. Ada adu argumen kecil, ada emosi, dan ada rasa ingin menang yang lebih besar. Saat United menang 2-0, rasanya bukan cuma klub yang menang. Saya juga ikut menang.

Saya tumbuh bersama Manchester United, terutama bersama era Sir Alex Ferguson atau yang saya panggil dengan hormat, Opa Ferguson. Dari beliau, saya belajar bahwa United bukan hanya soal bermain bola. United adalah soal mental, percaya sampai akhir, dan tidak menyerah meski keadaan sulit.

Mungkin itu yang membuat saya bertahan sampai hari ini.

Karena menjadi fans United tidak selalu tentang kemenangan. Ada masa indah, ada masa berat. Ada bangga, ada juga ejekan. Saya pernah dikatain mendukung tim cupu oleh kakak saya yang pendukung Arsenal. Tapi justru dari situ mental sebagai fans United terbentuk.

Tetap kuat. Tetap sombong. Tetap solid.

Manchester United juga hadir lewat benda-benda sederhana yang punya cerita. Tahun 2012, kakak saya memberi hadiah ulang tahun berupa jaket Manchester United dari hasil ia menabung. Sampai sekarang, jaket itu bukan sekadar barang. Di dalamnya ada usaha, perhatian, dan kenangan.

Di awal kerja, ketika uang belum banyak, saya juga pernah rela makan nasi dengan kerupuk demi menabung untuk membeli jersey United. Buat sebagian orang mungkin terdengar berlebihan. Tapi bagi fans bola, terutama fans United, cinta kadang memang punya cara yang sulit dijelaskan.

Ada yang kurang kalau hari-hari saya tidak ada Manchester United. MU dan musik adalah dua hal yang harus selalu ada. Rasanya seperti orang Indonesia makan nasi. Kalau tidak ada, seperti ada bagian yang hilang.

Saya memang belum pernah ke Old Trafford. Tapi mimpi itu selalu ada. Buat saya, ada tiga tempat yang ingin saya datangi dalam hidup: Mekkah, Madinah, dan Manchester. Old Trafford bukan hanya stadion. Bagi fans United, itu rumah yang belum sempat dikunjungi.

Meski belum sampai ke sana, saya punya banyak momen berharga di sini. Salah satunya nobar pertama saya pada musim 2012/2013, saat Manchester United melawan Real Madrid. Itu laga ketika Cristiano Ronaldo mencetak gol ke gawang United lewat sundulan. Saya nobar bersama teman-teman UKM di GOR Citra, dan setelah pertandingan bahkan sampai tidur di kampus.

Capek, tapi bahagia.

Dari nobar itu saya sadar, mencintai Manchester United tidak harus sendirian. Ada banyak orang dengan rasa yang sama. Ada chants, teriakan, kecewa, tawa, pelukan, dan kebersamaan yang tidak bisa digantikan dengan menonton sendiri di rumah.

Dulu saya tidak menyangka fans Manchester United di Indonesia sebesar ini. Saya pikir hanya saya yang mencintai klub ini sedalam itu. Ternyata ada begitu banyak orang yang merasakan hal yang sama. Dan itu menjadi kebanggaan tersendiri.

Mencintai Manchester United bersama fans lain di Indonesia adalah salah satu bagian paling indah dari perjalanan ini.

Dari semua pemain yang pernah saya lihat, David Beckham dan Paul Scholes punya tempat khusus. Beckham adalah awal mula saya jatuh cinta. Scholes membuat saya mengerti bahwa sepak bola tidak selalu harus ramai untuk terlihat hebat. Kadang, kehebatan justru terlihat dari kesederhanaan.

Untuk pemain saat ini, jawabannya hanya satu: Bruno Fernandes. Di masa yang tidak selalu mudah, Bruno menjadi simbol perjuangan, karakter, dan tanggung jawab. Ia mengingatkan saya bahwa United selalu butuh pemain yang bermain bukan hanya dengan kaki, tapi juga dengan hati.

Tentu, menjadi fans United juga penuh drama. Kalau United kalah atau tampil buruk, kadang rasanya ingin mandi wajib untuk buang sial. Marah ada, kecewa ada, bercanda juga ada. Tapi setelah semua emosi itu lewat, tetap saja kembali menunggu pertandingan berikutnya.

Karena begitulah cinta pada Manchester United.

Kalau tidak ada acara keluarga, nobar United tetap jadi prioritas nomor satu. Bukan hanya untuk melihat hasil akhir, tapi karena setiap pertandingan selalu membawa rasa: harapan, tegang, kesal, bahagia, dan keyakinan kecil bahwa kali ini United bisa menang.


Glory Glory Manchester United.

Related Content
Pendaftaran member resmi manutd di buka!
Setelah pembukaan keanggotaan musim lalu yang memecahkan rekor dan terjual habis pada tahun 2023/24, Keanggotaan Resmi kini telah diluncurkan untuk tahun 2024/25.
29 Feb 2024
kekalahan (lagi) di Derby manchester
United Army menggelar Nonton Bareng Derby Manchester pada Minggu (3/3/2024) malam WIB. Bertempat di Fomo Bar and Resto di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
6 Mar 2024
Demokrasi Dimulai dari Rumah: Ayah, Anak, dan Sepak Bola!
Beda warna, tetap satu cerita. Ayah setia Manchester United, anak memilih jalannya sendiri. Karena di rumah ini, perbedaan bukan soal menang atau kalah— tapi tentang saling menghormati dan tetap tertawa bersama.
18 Jan 2026
Website ini menggunakan kukis untuk pengalaman terbaik Anda, informasi lebih lanjut silakan kunjungi Kebijakan Privasi and Kebijakan Kukis