Demokrasi Dimulai dari Rumah: Ayah, Anak, dan Sepak Bola!

Ini bukan sekadar cerita tentang sepak bola, tapi tentang demokrasi kecil yang hidup di dalam sebuah keluarga.
Sang ayah tumbuh bersama kejayaan Manchester United. Sejak era Eric Cantona, ketika sepak bola bukan hanya soal menang, tapi soal karakter. Tentang keberanian berdiri tegak, tentang loyalitas tanpa syarat, tentang mencintai klub bahkan saat keadaan tak selalu ramah. Bagi sang ayah, United bukan sekadar tim—ia adalah kenangan, emosi, dan perjalanan hidup.
Lalu waktu berjalan. Generasi berganti.
Sang anak tumbuh di era yang berbeda—era data, kecepatan, dan sepak bola modern. Ia menemukan idolanya sendiri, sosok mesin gol bernama Erling Haaland. Kuat, cepat, mematikan. Klub pilihannya pun berseberangan dengan sang ayah. Warna berbeda, chant berbeda, bahkan sering kali saling mengejek di layar televisi.
Namun rumah ini tak pernah berubah menjadi arena konflik.
Di sini, perbedaan bukan ancaman, melainkan cerita. Setiap pertandingan menjadi ruang diskusi. Setiap gol menghadirkan sorak dari sisi yang berbeda. Kadang saling goda, kadang saling diam, tapi selalu berakhir dengan senyum.
Sang ayah tak memaksa anaknya mencintai klub yang sama.
Sang anak pun tak meremehkan sejarah yang dijaga ayahnya dengan penuh rasa hormat. Karena cinta pada sepak bola tak seharusnya memutuskan ikatan—justru menguatkannya.
Inilah makna demokrasi yang sesungguhnya:
kebebasan memilih, keberanian berbeda, dan kedewasaan untuk saling menghargai.
Tak perlu satu suara untuk tetap menjadi satu keluarga.
Berbeda klub, berbeda idola, berbeda generasi—
namun tetap satu cerita, satu tawa, dan satu rumah yang penuh cinta. ⚽❤️
cerita : Roni Suwarno


